“Wahai Ukkasyah, pukullah jika engkau mau memukul.”
“Dari Abi Hurairah (semoga Allah meridhainya) berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., ‘Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia mempunyai amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudaranya (yang dizalimi) kemudian dibebankan padanya.’” (H.R. Al-Bukhari)
Sebelum kita mengupas dan memetik pelajaran dari hadits tersebut di atas, mari kita perhatikan sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw. sendiri melaksanakan yang beliau ajarkan kepada umatnya.
Pada saat turun surat An-Nashr, Rasulullah Saw. berkata kepada malaikat Jibril, “Jiwaku telah diberi isyarat kematian.” Sang Penyampai Wahyu menjawab, “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Seraya Rasulullah Saw. memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan, memanggil manusia untuk shalat.
Berhimpunlah segenap kaum muslim yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Setelah shalat dilaksanakan, Rasulullah Saw. berdiri untuk memberi arahan dan wejangan. Isak tangis dan lelehan air mata para sahabat tak tertahankan lagi demi mendengar nasihat yang mengisyaratkan bahwa tak akan lama lagi Beliau akan meninggalkan alam fana.
“Demi Allah, aku mohon kepada kalian, siapa di antara kalian yang merasa pernah dizalimi olehku, majulah padaku dan balaslah aku,” pinta Rasulullah Saw. usai memberikan nasihat. Semua hening, terdiam, tidak ada yang berkata apa pun terlebih lagi maju ke hadapan Rasulullah. Rasul mulia mengulanginya lagi. Masih sama, semua terdiam, hening, tidak ada yang bersuara, konon lagi maju ke hadapan Rasulullah Saw.
“Dari Abi Hurairah (semoga Allah meridhainya) berkata, telah bersabda Rasulullah Saw., ‘Barangsiapa pernah melakukan kezaliman terhadap saudaranya baik menyangkut kehormatannya maupun sesuatu yang lain, maka hendaklah dia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia mempunyai amal saleh, akan diambil darinya seukuran kezalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudaranya (yang dizalimi) kemudian dibebankan padanya.’” (H.R. Al-Bukhari)
Sebelum kita mengupas dan memetik pelajaran dari hadits tersebut di atas, mari kita perhatikan sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana Rasulullah Saw. sendiri melaksanakan yang beliau ajarkan kepada umatnya.
Pada saat turun surat An-Nashr, Rasulullah Saw. berkata kepada malaikat Jibril, “Jiwaku telah diberi isyarat kematian.” Sang Penyampai Wahyu menjawab, “Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan). Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Seraya Rasulullah Saw. memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan, memanggil manusia untuk shalat.
Berhimpunlah segenap kaum muslim yang terdiri dari Muhajirin dan Anshar. Setelah shalat dilaksanakan, Rasulullah Saw. berdiri untuk memberi arahan dan wejangan. Isak tangis dan lelehan air mata para sahabat tak tertahankan lagi demi mendengar nasihat yang mengisyaratkan bahwa tak akan lama lagi Beliau akan meninggalkan alam fana.
“Demi Allah, aku mohon kepada kalian, siapa di antara kalian yang merasa pernah dizalimi olehku, majulah padaku dan balaslah aku,” pinta Rasulullah Saw. usai memberikan nasihat. Semua hening, terdiam, tidak ada yang berkata apa pun terlebih lagi maju ke hadapan Rasulullah. Rasul mulia mengulanginya lagi. Masih sama, semua terdiam, hening, tidak ada yang bersuara, konon lagi maju ke hadapan Rasulullah Saw.
(Selengkapnya)
_(www//blokagung.net)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar